Pemerintahan
Home » Berita » Pertumbuhan Ekonomi NTB Triwulan II 2026 Capai 7,41 Persen

Pertumbuhan Ekonomi NTB Triwulan II 2026 Capai 7,41 Persen

Mataram – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) pada Triwulan II 2026 tumbuh sebesar 7,41 persen dibanding Triwulan II 2025 atau secara tahunan (year on year).

Kepala BPS NTB, Wahyudin, mengatakan capaian tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Bumi Gora tidak hanya bergantung pada sektor pertambangan, tetapi mulai dapat ditopang oleh sektor-sektor riil yang lebih beragam.

Lantaran sebagaimana diketahui, relaksasi ekspor konsentrat tembaga terhadap PT AMNT telah berakhir, yang merupakan salah satu penyokong pertumbuhan ekonomi NTB.

“Struktur pertumbuhan NTB justru semakin sehat karena sektor-sektor ekonomi riil tetap tumbuh positif dan menjadi penopang utama perekonomian daerah,” ujarnya saat menyampaikan statistik ekonomi NTB di kantornya, Rabu (5/8/2026).

Selain tumbuh secara tahunan, ekonomi NTB juga meningkat 0,72 persen dibandingkan Triwulan I 2026 atau secara quarter to quarter (q-to-q). Sementara secara kumulatif Semester I 2026, pertumbuhan ekonomi mencapai 10,42 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

KNMP Butuh Modal Usaha, Pemprov NTB Dorong Siapkan Business Plan

Meski demikian, Wahyudin menjelaskan sektor pertambangan dan penggalian masih menjadi penyumbang pertumbuhan tertinggi pada Triwulan II 2026 dengan kenaikan 30,57 persen. Kemudian disusul industri pengolahan 7,45 persen, pengadaan air dan pengelolaan sampah 6,52 persen, jasa keuangan 5,69 persen, serta penyediaan akomodasi dan makan minum 4,86 persen.

Sementara itu, pada perbandingan secara triwulan, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 11,42 persen. Disusul jasa lainnya 8,90 persen, transportasi dan pergudangan 6,22 persen, administrasi pemerintahan 5,87 persen, serta real estat 2,41 persen.

“Pertumbuhan terjadi pada seluruh (tujuh belas) lapangan usaha,” katanya.

BPS juga mencatat sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih mendominasi struktur perekonomian NTB dengan kontribusi 21,93 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

Posisi berikutnya ditempati sektor pertambangan dan penggalian sebesar 20,02 persen, perdagangan besar dan eceran 13,94 persen, serta konstruksi 8,51 persen.

Wakil Ketua DPR RI Salurkan Program PIP dan KIP Kuliah untuk Santri di Lombok Barat

Nilai PDRB NTB pada Triwulan II 2026 atas dasar harga berlaku mencapai Rp53,91 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan 2010 sebesar Rp29,89 triliun.

Secara kumulatif Semester I 2026, seluruh lapangan usaha juga mencatat pertumbuhan positif. Sektor pertambangan dan penggalian tumbuh 31,18 persen, industri pengolahan 29,67 persen, jasa keuangan 9,56 persen, penyediaan akomodasi dan makan minum 7,61 persen, pengadaan air dan pengelolaan sampah 7,45 persen, perdagangan 7,04 persen, serta pertanian, kehutanan, dan perikanan 6,27 persen.

Meski demikian, BPS kata Wahyudin mengingatkan masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu menjadi perhatian, terutama memperluas lapangan kerja berkualitas, serta memastikan manfaat pertumbuhan ekonomi semakin dirasakan masyarakat hingga ke wilayah perdesaan.

“Ke depan, tantangan terbesar adalah menjaga momentum tersebut agar pertumbuhan ekonomi semakin inklusif, berkelanjutan, dan mampu menghadirkan kesejahteraan yang lebih merata bagi seluruh masyarakat Nusa Tenggara Barat,” tandasnya. (ril)

Biaya Pembangunan Gedung Baru DPRD NTB Diprediksi Bengkak Jadi Rp250 Miliar

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan