Pariwisata
Home » Berita » Ikhtiar Merawat Tradisi Sasak di Masa Kini Lewat Buku “Bejangkep”

Ikhtiar Merawat Tradisi Sasak di Masa Kini Lewat Buku “Bejangkep”

Acara bedah buku "Bejangkep" karya pegiat literasi dan kebudayaan, Lalu Gitan Prahana, yang digelar di Praya, Lombok Tengah, Sabtu malam 20 Juni 2026. (dok: ril)

Mataram – Upaya pelestarian kebudayaan Suku Sasak terus dihadirkan lewat ruang-ruang diskusi, salah satunya lewat bedah buku Bejangkep karya pegiat literasi dan kebudayaan, Lalu Gitan Prahana, yang digelar di Praya, Lombok Tengah, Sabtu malam (20/6/2026).

Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi forum apresiasi terhadap karya literasi kebudayaan, tetapi juga ruang kritik dan refleksi mengenai masa depan tradisi Sasak di tengah perubahan zaman.

Buku Bejangkep sendiri mengangkat secara khusus tradisi pernikahan masyarakat Sasak yang sarat nilai sosial, budaya, dan agama. Melalui buku itu, Lalu Gitan mendeskripsikan dan mendokumentasikan tahapan-tahapan adat pernikahan Sasak, mulai dari midang, merariq, ngawinan, sorong serah aji krame hingga nyongkolan dan bales ones naen.

Kepala Dinas Kebudayaan NTB, Muhammad Ihwan yang hadir dalam acara tersebut mengapresiasi lahirnya karya tersebut sebagai bagian dari gerakan pelestarian budaya yang digerakkan generasi muda.

“Kita mengapresiasi karya kebudayaan seperti buku Bejangkep ini. Pelestarian kebudayaan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, tetapi juga harus lahir dari inisiatif anak-anak muda,” ujarnya.

Pelaku Wisata Rinjani Tolak Agam dan Panji Petualang Buat Konten Peringatan Satu Tahun Juliana

Menurut Ihwan, keterlibatan generasi muda dalam aktivitas budaya di NTB terus tumbuh. Fenomena itu dapat dilihat dari banyaknya kelompok kesenian tradisional, termasuk Gendang Beleq, yang kini diisi oleh kalangan muda.

Ia menegaskan bahwa kebudayaan memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat Sasak karena berjalan beriringan dengan nilai-nilai agama.

“Sejak lahir sampai meninggal dunia, antara adat dan agama itu pasti bertemu, tidak terpisahkan,” katanya.

Ihwan menambahkan, NTB saat ini telah memiliki Peraturan Daerah tentang Pemajuan Kebudayaan yang nantinya akan diperkuat dengan peraturan gubernur terkait perlindungan dan pelestarian objek kebudayaan. Namun demikian, menurutnya, pemajuan kebudayaan tidak harus selalu bergantung pada anggaran pemerintah daerah.

“Kita harus menemukan cara-cara baru dalam pemajuan kebudayaan NTB. Tidak harus selalu berpatokan pada APBD,” jelasnya.

KBRI Kuala Lumpur Sebut NTB Mitra Strategis Malaysia, Bidik Zero Cost untuk PMI

Penulis buku, Lalu Gitan Prahana, mengaku mulai menyusun naskah Bejangkep sejak 2021. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapinya adalah mendokumentasikan sejumlah prosesi adat yang semakin jarang ditemukan, termasuk tradisi Bedudus atau memandikan pengantin.

“Salah satu yang paling susah adalah dokumentasi. Termasuk prosesi Bedudus yang sekarang tidak mudah ditemukan dan didokumentasikan,” katanya.

Gitan mengakui buku tersebut lebih berfokus pada upaya pendokumentasian tahapan adat secara menyeluruh dibandingkan penggalian makna filosofis yang mendalam.

“Saya coba mendeskripsikan saja, saya belum sampai pada pemaknaan yang mendalam. Karena saya pikir akan lama sekali prosesnya. Jadi saya coba merangkum secara umum dulu,” ucapnya.

Melalui buku itu, ia berupaya merekam kembali pengetahuan adat yang selama ini lebih banyak diwariskan secara lisan agar tidak hilang ditelan perubahan zaman.

Gubernur Iqbal Temui Ribuan Buruh Sawit di Malaysia

Acara bedah buku itu turut menghadirkan akademisi Lamuh Syamsuar yang memberikan sejumlah catatan kritis terhadap karya tersebut. Menurutnya, Bejangkep memiliki nilai penting karena mengangkat tradisi sorong serah aji krame yang merupakan produk budaya khas masyarakat Sasak.

“Bejangkep yang di dalamnya terdapat sorong serah aji krame hanya ada di Lombok dan merupakan produk pemikiran asli orang Sasak,” cetusnya.

Meski demikian, ia menilai buku tersebut masih lebih banyak menyajikan deskripsi tahapan adat dibandingkan analisis yang mendalam mengenai makna budaya yang terkandung di dalamnya.

“Kelebihan penulis sebagai insider adalah bisa masuk lebih dalam. Namun dalam buku ini saya melihat lebih banyak penjelasan proses daripada pendalaman makna,” bebernya.

Ia juga menyoroti pentingnya penguatan sumber rujukan agar karya kebudayaan memiliki pijakan akademik yang lebih kuat.

Sementara itu, budayawan Lombok Tengah, Mujahidun Nafis, menilai istilah Bejangkep lebih dekat dengan praktik pernikahan di kalangan bangsawan Sasak. Menurutnya, jika ingin menjangkau seluruh lapisan masyarakat Sasak, istilah Merariq mungkin lebih representatif.

Terlepas dari itu, ia menekankan bahwa tantangan terbesar saat ini adalah menjaga agar tradisi tetap hidup tanpa menjadi beban bagi masyarakat.

“Zaman boleh berubah, tetapi kebudayaan kita harus tetap dilestarikan. Jangan sampai adat justru merumitkan hajat hidup masyarakat, terutama dalam urusan pernikahan,” tegas Mujahidun. (ril)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan