Religi
Home » Berita » Selamat Jalan Datuk, Tuan Guru

Selamat Jalan Datuk, Tuan Guru

Oleh: Dr. Adhar Hakim (Mantan Jurnalis SCTV/Ketua Ombudsman Dua Periode 2012-2022)

Tahun 2004, saat saya masih berkerja di SCTV, mendapatkan tugas membuat tayangan untuk acara “Sosok” untuk figur TGH Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin, atau biasa dipanggil Tuan Guru Bagu, pendiri Ponpes Qomarul Huda, Bagu, Lombok Tengah, NTB.

Seorang kiai yang sangat dihormati Gus Dur dan masuk dalam kelompok kiai khos di mata Gus Dur karena keilmuan dan kesolehannya. Oh ya, acara Sosok adalah satu rubrik yang ditayangkan selama 15 menit pada segmen ke 4 di sela-sela Liputan 6 siang setiap hari Minggu yang mengupas sepak terjang ketokohan seseorang.

Liputan 6 memilih sosok beliau. Salah satu alasan ya itu tadi, posisi beliau yang sangat dihormati Gus Dur.
Saya sebenarnya sudah mengenal beliau sejak dipercayanya Ponpes Qomarul Huda menjadi tuan rumah Konbes dan Munas NU tahun 1997.

Bersama Tuan Guru Taqiuddin, sahabat saya yang juga sahabat kental beliau, kami sering terlibat diskusi. Posisi saya sebagai jurnalis mempermudah ruang saya untuk bertemu dengan beliau.

Tuan Guru Bagu Wafat, Gubernur Iqbal: NTB Kehilangan Salah Satu Ulama Panutan

Wah, tugas berat bagi saya mempersiapkan liputan khusus untuk acara Sosok bagi tuan guru. Bayangkan, meski ditayangkan hanya dalam 15 menit, tetapi saya bersama kameramen harus melakukan take gambar selama beberapa hari agar stock gambar memenuhi kebutuhan. Karena itu dalam pengambilan gambar saya sekali-kali harus meminta beliau melakukan sesuatu, sesuai kebutuhan gambar.

Tentu dengan cara sungkan dan hati-hati. Namun beliau sangat kooperatif dan tetap melakukan permintaan-permintaan saya. Misalnya, saya minta beliau berjalan dari rumah ke pondok tempatnya mengajar. Bahkan meminta ijinnya tetap mengambil gambar saat beliau duduk berdoa. Luar biasanya beliau menuruti dengan tetap tersenyum. Bahkan beberapankali kami tertawa bersama-sama jika ada take gambar yang salah. Kami lalu menjadi akrab.

Maksud Liputan 6 membuat liputan Sosok tersebut untuk ditayangkan saat Muktamar ke 31 NU di Asrama Haji Donoyudan, Surakarta. “Mas Adhar ikut ya ke Solo,” ujar beliau. Benar saja, liputan Sosok tersebut ditayangkan Liputan 6 saat peserta muktamar menikmati makan siang di hotel Ibis, Solo, tempat kami menginap. Saya melihat wajahnya berseri- seri. Saya juga bahagia bisa menampilkan sosok tuan guru yang sangat sederhana dan rendah hati itu.

Saya bergabung dengan Tuan Guru di Solo. Bahkan selama 2 malam 3 hari saya mendapat kesempatan luar biasa, tidur satu kamar dengan beliau dan menjadi “ajudannya” selama Muktamar NU, tentu saja sambil membantu Tim Liputan 6 yang melakukan siaran khusus tentang muktamar NU. Maklum suasana politik internal NU saat kepemimpinan Presiden SBY diliputi suasana rada-rada panas internal NU dan pemerintah.

Selalu disampingnya saat-saat panasnya politik dalam Muktamar NU ke 31 dan terpilih kembalinnya KH Hasyim Muzadi menjadi Ketua Umum NU kedua kalinya. Saat-saat itulah saya melihat betapa ibadah beliau amat sangat dalam. Beliau baru tertidur sekitar jam 1 malam setelah kembali ke hotel dari kesibukan muktamar. Tanpa istirahat tuan guru langsung melakukan serangkaian ibadah, lalu mengaji, membaca beberapa kitab.

Kabar Duka, Tuan Guru Bagu Wafat di RSUD Provinsi NTB

Karena sudah terlalu lelah mungkin, tertidur sambil memegang kitab yang dibacanya. Dengan hati-hati saya membangunkannya agar tidur dan istirahat. Baru tidur beberapa jam, sekitar hampir jam 3 dini hari sudah kembali bangun dan kembali beribadah sampai subuh. Begitu yang saya lihat selama bersama beliau. Tasbih tak pernah lepas dari tangannya.

Selalu tersenyum. Bahkan tak jarang melempar humor. Sikap ini yang membuatnya disegani. Tak pernah berbicara dengan istilah-istilah rumit. Bahasa yang sederhana. Tapi Gus Dur saya lihat sangat menghormatinya. Saat muktamar NU, Gus Dur rupanya agak risau dengan perlakuan politik saat itu kepada NU. Tuan Guru merasakan kegundahan Gus Dur dan saya lihat sangat sedih. “Bagaimana nasib NU setelah muktamar ini Mas Adhar,” tanya tuan guru ke saya di sela-sela perjalanan pulang kami dari lokasi muktamar ke hotel.

Saya beberapa kali menemani tuan guru, bahkan di kesempatam-kesempatan pertemuan tertutup kiai khos dengan Gus Dur. Betapa Gus Dur sangat mencintai para kiai, dan menuruti nasehat-nasehat para kiai. Saya masuk sampai ke pertemuan-pertemuan tertutup di rumah Kiai Sahal Mahfudh, Rois Aam Syuriah PBNU saat itu, kiai karismatik yang pernah dimiliki NU. Maklum, saya jadi “ajudan” dadakan.

Innalillahi wainailahi rojiun. Kiprahmu sudah sangat panjang tuan guru. Jasamu teramat banyak bagi dunia pendidikan, sosial keagamaan, bahkan politik. Terimakasih atas pengalaman dan bimbinganmu. Beristirahatlah tuan guru. Surga menantimu.

Muhsinin Travel Beri Diskon Jemaah Haji Khusus 2027 Capai 500 Dolar

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan