Mataram – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) diminta untuk menyiapkan anggaran sebesar Rp 1 triliun untuk membiayai penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028.
Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) NTB, Nursalim, mengaku belum mengetahui secara terperinci kebutuhan anggaran maupun kesiapan pendanaan PON 2028. Ia menyebut pembahasan tersebut perlu dikonfirmasi kepada Sekretaris Daerah NTB Abul Chair yang mengikuti rapat koordinasi bersama KONI Pusat.
“Saya tidak ikut rapat kemarin. Yang hadir rapat itu Pak Sekda, tanya Pak Sekda,” kata Nursalim, Jumat (30/10/2026).
Saat ditanya apakah Pemprov NTB telah menyiapkan anggaran untuk PON 2028, Nursalim menyebut sudah ada alokasi dalam APBD. Namun, ia belum dapat memastikan jumlahnya.
“Sudah, kan ada di APBD. Nah, tidak tahu persisnya berapa,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) NTB, Baiq Nelly Yuniarti, mengatakan Pemprov telah mulai mengupayakan perbaikan dan pemeliharaan sejumlah fasilitas olahraga yang berpotensi menjadi venue pertandingan.
Bahkan kata Nelly, Pemprov telah mulai mengalokasikan anggaran untuk PON 2028 sejak APBD Perubahan 2026.
Nelly mencontohkan beberapa fasilitas yang mulai disiapkan antara lain arena panahan dan berkuda. Namun, venue tersebut tetap harus memenuhi standar dan mendapatkan persetujuan dari pengurus besar cabang olahraga terkait.
“Untuk persiapan perbaikan-perbaikan venue, iya kita berikhtiar. Bahkan dari 2026 ini di perubahan, Dinas Dikpora sudah mulai memperbaiki atau memelihara beberapa sarana yang mungkin bisa menjadi venue,” kata Nelly.
Meski demikian, Pemprov NTB kata Nelly belum menghitung total kebutuhan anggaran untuk persiapan PON 2028, termasuk biaya perbaikan venue pada 2027. Menurutnya, pembahasan lebih lanjut menunggu koordinasi internal panitia besar (PB) PON NTB.
“Sudah kita anggarkan, tapi saya belum hitung. Kami belum rapat untuk tim besar PON itu, baru KONI-nya,” tuturnya.
Sebelumnya, Wakil Ketua Umum I KONI Pusat Mayjen TNI (Purn) Suwarno menyebut kebutuhan anggaran penyelenggaraan PON diperkirakan mencapai Rp1 triliun untuk masing-masing provinsi tuan rumah. Anggaran tersebut dibebankan kepada APBD tanpa skema pembagian pembiayaan dengan pemerintah pusat.
“Cukup banyak, mungkin Rp1 triliun untuk satu provinsi. Makanya jangan berkejar dengan banyak-banyakan cabor. Karena satu cabor ada angkanya,” kata Suwarno saat rapat koordinasi persiapan PON 2028 dan peninjauan sejumlah venue di Mataram, Kamis (29/10/2026).
Suwarno meminta NTB dan Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai tuan rumah bersama tidak memaksakan jumlah cabang olahraga yang dipertandingkan. Penentuan cabang olahraga harus mempertimbangkan kesiapan venue, peralatan, serta kemampuan anggaran masing-masing daerah.
Menurutnya, penyelenggaraan PON tidak harus ditandai dengan pembangunan banyak venue baru. KONI Pusat justru mendorong pemanfaatan fasilitas yang sudah tersedia melalui renovasi dan perbaikan seperlunya.
“Kita tidak ingin membangun venue-venue baru yang menggunakan APBD. Renovasi kecil-kecil, mengecat kecil-kecil,” ujarnya.
Suwarno juga menyebut sejumlah cabang olahraga, seperti atletik, hoki, BMX, golf, dan panjat tebing, masih dalam pertimbangan untuk dipertandingkan di NTB dengan alasan kesiapan venue. Jika fasilitas di NTB tidak memungkinkan, cabang olahraga tersebut dapat dialihkan ke DKI Jakarta.
“Ada atletik, hoki, BMX, golf, panjat tebing dalam pertimbangan. Saya menunggu keputusan dari sini. Kalau tidak bisa di sini dipindah ke DKI, DKI sudah siap.
Kita tidak usah berpikir untuk banyak-banyakan tapi berpikir kemampuan,” ungkapnya.
Ia berharap pembagian cabang olahraga antara NTB, NTT, dan DKI Jakarta disesuaikan dengan kemampuan daerah. Targetnya, PON 2028 dapat terselenggara dengan baik tanpa memaksakan pembangunan maupun pembiayaan di luar kemampuan masing-masing provinsi.
“Yang penting semuanya bisa diselenggarakan dengan lancar, sesuai dengan kemampuan dan batas kemampuan.
Jadi orang tidak akan melihat bahwa cabang olahraga dipertandingan di NTB dan NTT sekian, tidak. Tapi NTB dan NTT pernah menjadi tuan rumah dengan penyelenggaraan yang terbaik,” pungkas Suwarno. (ril)


Komentar