Mataram – Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI mendorong mahasiswa terlibat langsung dalam kegiatan ekspor melalui program Campus Preneur.
Program ini dirancang untuk membekali mahasiswa menjadi wirausaha sekaligus eksportir, mulai dari pengembangan produk hingga mencari pembeli di pasar internasional.
Menteri Perdagangan, Budi Susanto, mengatakan program Campus Preneur tidak hanya memberikan pelatihan kewirausahaan, tetapi juga mendampingi mahasiswa memahami proses ekspor dari hulu hingga hilir.
“Campus preneur itu kita pengin mengajari anak-anak kita, para mahasiswa ini menjadi enterpreneur, salah satunya adalah menjadi eksportir,” kata Budi saat sosialisasi program Campus Preneur di Universitas Muhammadiyah Mataram, Kamis (5/11/2026).
Dipaparkan terkait program tersebut, mahasiswa mendapat pelatihan ekspor, pendampingan standarisasi produk, perbaikan kemasan, hingga fasilitasi untuk menemukan buyer atau pembeli dari luar negeri.
Menurut Budi, keterlibatan mahasiswa tidak harus dimulai dengan memproduksi barang sendiri. Mereka juga dapat menjadi penghubung bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang memiliki produk potensial, tetapi belum mampu menembus pasar ekspor.
“Aplikator itu bisa produknya dari UMKM, tetapi diajari UMKM-nya supaya produknya masuk standar ekspor. Nah, UMKM kan biasanya enggak bisa jualan. Nanti bisa aplikator dari mahasiswa yang jualan,” jelas Ketua DPW PAN NTB itu.
Dengan skema tersebut, mahasiswa tidak hanya belajar teori bisnis, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung memasarkan produk dan membangun jaringan perdagangan internasional.
Kemendag saat ini kata Budi telah menjalin kerja sama dengan lebih dari 27 perguruan tinggi di Indonesia. Program tersebut juga mulai menunjukkan hasil melalui partisipasi kampus dalam Trade Expo Indonesia pada 18-19 Oktober lalu.
Budi menyebut, sebanyak 20 kampus mengikuti pameran dengan membawa produk masing-masing serta produk UMKM binaan. Dari kegiatan itu, tercatat transaksi mencapai 24,5 juta dolar AS.
Tiga kampus dengan transaksi terbesar dalam kegiatan tersebut adalah Binus University, Universitas Telkom Bandung, dan Institut Pertanian Bogor (IPB). Bahkan, Budi berujar sejumlah kampus telah melakukan ekspor sebelum mengikuti Trade Expo Indonesia.
“Jadi, kita tidak semata-mata membuat programnya atau bagaimana, tapi kita juga harus ada hasil. Hasilnya salah satunya adalah ekspor tadi,” ujarnya.
Ke depan, Kemendag menargetkan nilai transaksi Campus Preneur terus meningkat dan semakin banyak perguruan tinggi yang mampu menghasilkan eksportir baru. Meski belum menetapkan target angka, Budi menegaskan keberhasilan program tidak semata diukur dari jumlah kampus yang bergabung.
“Kampus semakin banyak juga semakin bagus, tapi sebenarnya kami pengin nanti mahasiswa ini benar-benar bisa ekspor. Targetnya ya, kami belum menentukan berapa besar, tapi kami pengin tiap tahun meningkat,” tukasnya.
Selain pendampingan produk dan pemasaran, Kemendag juga membuka peluang bagi mahasiswa untuk magang di Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) di berbagai negara. Melalui program tersebut, mahasiswa dapat mempelajari pasar internasional sekaligus mencari calon pembeli bagi produk yang mereka pasarkan.
“Nanti kita ajari cara cari buyer. Setelah cari buyer, dia dapat buyer, ya dia pulang ya. Dia bisa ya jadi eksportirnya,” pungkas Budi. (ril)


Komentar