MATARAM – SMP Negeri 5 Mataram kembali menorehkan prestasi membanggakan melalui program terobosan bertajuk “Inovasi Digital-Art (Literasi, Kreasi, dan Aksi)”. Program yang digagas oleh inovator sekolah, Muhamad Dwi Utomo, S.Pd., ini telah berhasil mentransformasi cara siswa mengeksplorasi dan mempromosikan kekayaan daerah melalui konten digital.
Sinergi Literasi dan Teknologi Kreatif
Inovasi ini mengintegrasikan tiga pilar utama yaitu literasi digital, kreasi konten, dan aksi nyata. Melalui program ini, siswa tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi terjun langsung sebagai kreator yang mengampanyekan potensi daerah ke khalayak luas melalui platform seperti YouTube, TikTok, dan Instagram.
Suara peserta didik , Menjadi Duta Budaya di Dunia Maya
Dampak dari program Digital-Art ini dirasakan langsung oleh para peserta didik. Salah satu siswa yang aktif dalam pembuatan konten, berbagi pengalamannya:
“Membuat konten bukan sekadar tugas bagi kami. Saat kami turun ke lapangan untuk merekam keindahan destinasi wisata di Kota Mataram atau mendokumentasikan nilai luhur budaya Nusa Tenggara Barat (NTB), kami merasa seperti sedang menjalankan misi. Ada kebanggaan tersendiri saat karya kami di YouTube atau TikTok ditonton banyak orang dan mendapatkan komentar positif yang mengapresiasi keindahan daerah kami,” ungkap salah satu peserta didik penggerak konten di SMPN 5 Mataram.
Siswa lainnya menambahkan bahwa proses kreatif ini mengubah perspektif mereka terhadap media sosial:
“Dulu kami hanya pengguna sosmed biasa. Sekarang, lewat bimbingan Bapak Dwi Utomo, kami belajar cara mengambil angle kamera yang bagus, mengedit video yang informatif, hingga menyusun narasi yang bisa memperkenalkan budaya NTB ke dunia luar. Kami sadar bahwa di tangan kami, budaya lokal bisa menjadi konten yang mendunia,” tambahnya.
Transformasi Peran Siswa
Muhamad Dwi Utomo, S.Pd., menekankan bahwa melalui Digital-Art, paradigma pembelajaran di sekolah telah berubah. Siswa kini adalah produsen aktif yang mampu menyuarakan ide dan kreativitasnya secara bertanggung jawab.
“Kami ingin siswa tidak hanya mahir akademis, tetapi juga berkomunikasi harus dijaga di dunia digital. Dengan mengangkat tema pariwisata dan budaya daerah, mereka belajar mengemas pesan edukasi dengan cara yang menarik, sehingga nilai-nilai positif daerah dapat tersampaikan dengan efektif kepada generasi sebaya di seluruh Indonesia,” ujar Dwi Utomo.
Dampak dan Harapan Masa Depan
Koleksi konten kreatif yang terus bertambah di kanal media sosial sekolah mulai dari eksplorasi destinasi wisata di Mataram hingga konten pelestarian adat NTB menjadi bukti nyata bahwa Digital-Art berhasil menciptakan ekosistem belajar yang modern, dinamis, dan relevan.
Inovasi ini diharapkan terus menjadi pemantik bagi sekolah-sekolah lain di Kota Mataram untuk mengoptimalkan teknologi, demi menciptakan kualitas pendidikan yang tidak hanya unggul secara kognitif, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap kearifan lokal.


Komentar