Mataram — Di balik aksi pembacokan brutal di Jalan Udayana, Kota Mataram, yang menyebabkan satu korban jiwa dan dua korban lainnya mengalami luka-luka, terungkap fakta mengejutkan.
Sebelum melancarkan penyerangan, ke-13 tersangka remaja tersebut sempat menenggak minuman keras tradisional jenis arak di warung taman Udayana.
Kapolresta Mataram Kombes Pol. Hendro Purwoko mengungkapkan, aktivitas para pelaku bermula ketika mereka berkumpul di sebuah warung di kawasan Jalan Udayana pada malam kejadian.
“sekitar pukul 22.00 WITA, pelaku bersama dengan beberapa teman-temannya berkumpul di Jalan Udayana, tepatnya di warung Jawa sambil meminum minuman keras tradisional jenis arak,” ujar Hendro saat membeberkan kronologi perkara, Rabu (28/10/2026).
Kepada penyidik, para pelaku mengaku sengaja membawa senjata tajam dari rumah untuk mengantisipasi potensi bentrokan akibat gesekan dengan kelompok pemuda asal wilayah Pagutan, Kota Mataram.
Usai menenggak minuman keras, kelompok remaja tersebut langsung tancap gas melakukan konvoi ugal-ugalan menyusuri sejumlah ruas jalan utama.
“Konvoi ke arah Unram, Pagutan, Jalan Lingkar, serta kembali lagi ke Jalan Udayana, Kota Mataram menggunakan sepeda motor sambil membawa senjata tajam,” lanjutnya.
Nahasnya, setibanya kembali di kawasan Jalan Udayana, para pelaku mendapati korban yang saat itu berboncengan bertiga meliputi Muhammad Gibran, FAH, dan GL melintas menggunakan satu sepeda motor.
Salah satu korban kedapatan mengayunkan besi ke aspal jalan hingga menimbulkan percikan api.
Merasa kelompoknya ditantang oleh aksi tersebut, para pelaku langsung memutar balik arah kendaraan untuk mengejar korban.
Dua pelaku berinisial RP (17) dan YH (19) bertindak sebagai eksekutor utama yang memegang senjata tajam jenis corbek yang kerap disebut corbek bebek dan langsung menyerang korban.
“kemudian mengejar korban dan mengayunkan senjata tajam jenis corbek, ke arah korban, yang mana korban saat itu berhasil menghindar dari sabetan pelaku, akan tetapi korban terjatuh dari sepeda motor,” tutur Hendro.
Akibat penyerangan brutal tersebut, korban FAH dan GL mengalami luka-luka, sementara Muhammad Gibran menderita luka sabetan paling parah di sekujur tubuhnya hingga akhirnya meninggal dunia setelah sempat mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit kota mataram.
Melihat korban tak berdaya dan bersimbah darah di jalan, para pelaku sempat melayangkan sabetan susulan yang mengenai bodi sepeda motor sebelum akhirnya kabur meninggalkan lokasi.
“Melihat hal tersebut, pelaku lainnya kembali melakukan sabetan ke arah korban, namun mengenai motor korban. Yang kemudian pelaku meninggalkan korban setelah melihat adanya bercak darah di TKP,” pungkasnya.(zal)


Komentar