Mataram — Universitas Brawijaya (UB) mendorong penerapan biosekuriti dan pengelolaan limbah berkelanjutan pada usaha peternakan ayam broiler di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Upaya tersebut dilakukan melalui Program Dosen Berkarya (DOKAR) 2026 pada Rabu (7/10/2026) yang menyasar peternak mitra PT Mitra Sinar Jaya (PT MSJ).
Ketua tim pelaksana, Muchamad Muchlas, S.Pt., M.Pt., Ph.D., mengatakan penerapan biosekuriti dan pengelolaan limbah merupakan dua aspek penting dalam mendukung usaha peternakan ayam broiler yang sehat, produktif, dan ramah lingkungan.
“Penerapan biosekuriti sangat penting untuk mencegah masuk dan menyebarnya penyakit di lingkungan peternakan. Di sisi lain, pengelolaan limbah juga perlu mendapat perhatian agar aktivitas peternakan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan sekitar,” ujarnya kepada WartaOne melalui keterangan resminya, Jumat (16/102/2026).
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk Pentingnya Penerapan Biosekuriti dan Pengolahan Limbah Ternak pada Industri Peternakan Ayam Broiler ini diinisiasi melalui Fakultas Sains dan Teknologi Peternakan UB. Program tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas peternak dalam menerapkan praktik peternakan yang sehat, produktif, dan berkelanjutan.
PT MSJ, yang merupakan bagian dari jaringan usaha PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk, menjadi mitra dalam kegiatan tersebut. Kolaborasi ini merupakan bagian dari upaya memperkuat kerja sama perguruan tinggi dan industri melalui pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.
Muchlas menjelaskan, penerapan biosekuriti mencakup sejumlah langkah, mulai dari prosedur sanitasi, pengendalian lalu lintas orang dan peralatan, hingga pemeliharaan lingkungan kandang. Menurutnya, langkah-langkah tersebut perlu diterapkan secara konsisten agar kesehatan ternak tetap terjaga dan kegiatan produksi dapat berlangsung secara optimal.
“Melalui program ini, kami ingin mendorong peternak agar tidak hanya memahami pentingnya biosekuriti, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kegiatan usaha sehari-hari. Dengan begitu, risiko penyebaran penyakit dapat ditekan dan produktivitas peternakan bisa lebih terjaga,” katanya.
Selain kesehatan ternak, pengelolaan limbah menjadi perhatian dalam program tersebut. Limbah peternakan yang tidak ditangani dengan baik berpotensi mencemari lingkungan dan mengganggu kenyamanan masyarakat sekitar.
Karena itu, peternak akan mendapatkan pemahaman mengenai pengolahan limbah organik menggunakan metode yang tepat guna dan berkelanjutan. Pengelolaan tersebut juga diarahkan untuk membuka peluang pemanfaatan limbah menjadi produk yang memiliki nilai tambah.
Muchlas menambahkan, pengolahan limbah tidak semestinya hanya dipandang sebagai upaya mengurangi dampak lingkungan, tetapi juga berpotensi memberikan manfaat ekonomi apabila dikelola dengan tepat.
“Kami berharap peternak dapat melihat limbah sebagai sesuatu yang perlu dikelola secara serius. Jika diolah dengan metode yang sesuai, limbah peternakan berpotensi dimanfaatkan kembali sehingga memberikan nilai tambah sekaligus mengurangi risiko pencemaran lingkungan,” ujarnya.
Pelaksanaan program direncanakan meliputi koordinasi dengan mitra dan peternak, penyusunan materi pelatihan, pengenalan teknologi pengolahan limbah, demonstrasi lapangan, serta pendampingan dan evaluasi.
Tim pelaksana terdiri atas Muchlas selaku ketua, bersama Dr. Rani Winardi Wulan Sari, S.Pt., M.Pt., Firmansyah Tri Saputra, S.Pt., M.P., Ph.D., dan Poppy Satya Puspita, S.Pt., M.Si.
Melalui Program DOKAR 2026, UB berharap kemitraan antara perguruan tinggi, industri, dan peternak semakin kuat. Luaran yang direncanakan mencakup modul pelatihan, dokumentasi kegiatan, penguatan kerja sama kelembagaan, serta bukti implementasi kerja sama.
Dalam jangka panjang, program ini diharapkan dapat membantu meningkatkan produktivitas peternakan ayam broiler, mengurangi risiko penyebaran penyakit, dan mendorong pengelolaan limbah yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.(Zal)


Komentar