Politik
Home » Berita » DPRD Desak Pemprov Siapkan Gudang Penyimpanan Jagung Jelang Panen Raya 2026

DPRD Desak Pemprov Siapkan Gudang Penyimpanan Jagung Jelang Panen Raya 2026

Anggota Komisi II DPRD NTB, Hulaemi. (dok: ril)

Mataram – Anggota Komisi II DPRD Nusa Tenggara Barat (NTB), Hulaemi, mendesak Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB, untuk menyiapkan gudang penyimpanan jagung menjelang panen raya kuartal I tahun 2026 yang telah mulai berlangsung di sejumlah wilayah.

Salah satunya, yaitu di Lombok Barat, yang telah mulai sejak beberapa hari lalu. Termasuk juga di Pulau Sumbawa yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung jagung nasional.

DPRD memprediksi hasil panen tahun ini akan melimpah, sehingga diharapkan menjadi momentum penguatan ketahanan pangan, sekaligus ujian bagi kesiapan pemerintah daerah dalam melindungi petani dari permainan harga oleh tengkulak dan spekulan.

“Kebutuhan jagung dalam negeri sangat tinggi. Bahkan pabrik pengolahan jagung masih sering impor. Artinya, sebenarnya hasil produksi dalam negeri bisa terserap semua,” kata Hulaemil, pada Senin (12/1/2026).

Ia menilai, kekhawatiran harga jagung anjlok saat panen raya semestinya tidak terjadi jika pemerintah hadir sejak awal. Hulaemi menekankan kunci utamanya adalah kesiapan gudang dan penyerapan hasil panen, khususnya oleh Bulog.

Isvie Ingatkan Hubungan dengan Eksekutif Harus Harmonis untuk Bangun NTB

“Kemungkinan harga jagung turun itu kecil, apalagi kalau pemerintah turun tangan. Ketika harga ditekan tengkulak, pemerintah harus langsung menyerap hasil panen,” ujarnya.

Sebagi seorang yang berlatar belakang pengusaha, Hulaemi menilai pengendalian harga jagung sebenarnya bukanlah hal yang sulit, selama ada sikap tegas dari pemerintah dan keberpihakan yang jelas kepada petani.

“Pemerintah bisa mengatur pabrik pengolahan jagung agar membeli dari Bulog. Kalau tidak mau, izinnya bisa dicabut. Sebenarnya mudah, asal ada kemauan,” katanya.

Saat ini, harga jagung di tingkat petani dan pasar disebut berada di kisaran Rp6.500 per kilogram, menurutnya harga tersebut terlalu tinggi dan berpotensi memberatkan sektor lainnya, yakni khususnya peternak ayam petelur.

“Idealnya harga di kisaran Rp5.500. Kalau terlalu tinggi, peternak menjerit. Ini harus dijaga keseimbangannya,” ujar Hulaemi.

Pejabat Eselon III Pemprov NTB Ajukan Nota Keberatan Usai Didemosi

Hulaemi mengingatkan pengalaman tahun sebelumnya, ketika harga jagung dipermainkan atau diatur oleh spekulan, yang justru mengakibatkan harga jagung melonjak terlalu tinggi di pasaran karena pemerintah terlambat melakukan penyerapan dengan alasan keterbatasan gudang.

Hingga hal tersebut pun membuat para peternakan ayam petelur dan sebagainya menjerit, lantaran harga pakan mahal.

“Tahun lalu harga melonjak karena pemerintah terlambat menyerap panen dengan alasan gudang tidak tersedia. Ke depan, gudang harus dipersiapkan sejak sekarang, jangan menunggu panen,” tegasnya.

Jika pemerintah benar-benar serius berada di pihak petani, dengan menyiapkan gudang penyimpanan kemudian menyerap hasil panen lebih awal, Hulaemi menilai hal tersebut akan tetep menempatkan NTB pada posisi strategis dalam mendukung ketahanan dan swasembada pangan nasional.

Ia menambahkan, langkah ini juga sejalan dengan visi Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal dan Wakil Gubernur Indah Damayanti Putri dalam salah satu triple agendanya, yakni ketahanan pangan.

Eks Sekretaris PDIP NTB Ditunjuk Jadi Plt Ketua PSI NTB

“Kita negara agraris. Tidak pantas kalau masih terlalu bergantung pada impor pangan,” tukasnya.

Lebih jauh, politisi Partai Amanat Nasional (PAN) itu menegaskan, petani harus ditempatkan sebagai pilar utama ketahanan pangan nasional dan diberi penghargaan nyata, salah satunya melalui perlindungan harga hasil panen.

“Petani adalah pahlawan pangan. Mereka harus dihargai dengan menjaga harga hasil panennya,” pungkasnya. (ril)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan