Hukum & Kriminal Peristiwa
Home » Berita » Terungkap, Tiga Santri Diduga Dibakar Setelah Melaporkan Kakak Kelas ke Pengurus Ponpes

Terungkap, Tiga Santri Diduga Dibakar Setelah Melaporkan Kakak Kelas ke Pengurus Ponpes

Lombok Tengah — Fakta mengejutkan terungkap dalam kasus dugaan pembakaran tiga santri di salah satu pondok pesantren di Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah. Sebelum peristiwa itu terjadi, para korban diduga kerap mendapat perlakuan tidak pantas dari kakak kelasnya hingga akhirnya berujung pada aksi pembakaran.

Bibi salah satu korban, Nurul Hidayah, mengungkapkan peristiwa tersebut terjadi pada November 2025 di sebuah ruangan yang sudah tidak digunakan di lingkungan pondok pesantren.

Menurut keterangan korban, tiga santri yang menjadi korban sempat berselisih dengan terduga pelaku berinisial MR yang merupakan kakak kelas mereka.

“Terduga pelaku ini kakak kelasnya, namanya MR. Anak saya itu baru sekitar delapan bulan mondok dan masih kelas satu MTs,” kata Nurul, Kamis (4/6/2026).

Nurul menuturkan, berdasarkan pengakuan korban, MR diduga sering menelanjangi sejumlah santri, termasuk tiga korban tersebut. Karena merasa tidak nyaman, para korban kemudian melaporkan kejadian itu kepada pengurus pondok.

Kasus Anggota Brimob Polda NTB Setubuhi Anak Bawah Umur Akan Gelar Perkara

Akibat laporan tersebut, MR disebut sempat mendapat teguran dan hukuman dari pihak pondok. Namun beberapa hari kemudian, terduga pelaku diduga mengancam akan membakar para korban apabila kembali melaporkan dirinya.

“Tiga hari sebelum kejadian, MR bilang kalau mereka melapor lagi ke pimpinan pondok, mereka akan dibakar. Tiga hari setelah itu kejadian benar-benar terjadi,” ungkapnya.

Menurut cerita korban kepada keluarga, saat kejadian para korban dipanggil ke sebuah ruangan kosong yang menyerupai gudang. Di lokasi itu terdapat lima orang, yakni tiga korban, terduga pelaku, dan seorang temannya.

“Setelah masuk, korban mengaku disiram bensin. Saat berusaha menyelamatkan diri, pintu ruangan tertutup dan mereka tidak bisa keluar,” ujarnya.

Akibat kejadian tersebut, ketiga korban mengalami luka bakar serius dan sempat menjalani perawatan medis. Salah seorang korban meninggal dunia pada bulan Ramadan 2026, sementara dua korban lainnya masih menjalani pemulihan.

Satu Tersangka Korupsi Truk Sampah DLH Loteng Berstatus Terdakwa Kasus Lain

“Anak saya mengalami luka bakar sekitar 80 persen. Dua korban lainnya juga mengalami luka bakar berat, dan satu di antaranya meninggal dunia,” katanya.

Nurul juga mengaku keluarga sempat menerima penjelasan berbeda dari pihak pondok pesantren. Saat awal kejadian, keluarga disebut mendapat informasi bahwa para korban mengalami kecelakaan saat membakar sampah.

“Awalnya pihak pondok bilang korban terbakar saat bakar sampah. Tapi setelah korban sadar, baru diketahui ada dugaan perbuatan yang dilakukan sesama santri,” ujarnya.

Sementara itu, Kasatreskrim Polres Lombok Tengah, AKP Punguan Hutahaean, mengatakan pihaknya telah menerima laporan dari keluarga korban dan mulai melakukan pengumpulan keterangan awal.

“Baru interogasi lisan terhadap salah satu korban dan orang tua korban serta dokumentasi kondisi fisik korban,” katanya saat dihubungi melalui WhatsApp.

Polisi Tunggu Hasil Laboratorium Forensik Kasus Kematian Mahasiswi Unram

Terkait pemeriksaan terhadap pihak pondok maupun terduga pelaku, Punguan menyebut penyidik masih melakukan pendalaman awal.

“Belum, yang pasti dilakukan percepatan,” tegasnya.

Di sisi lain, UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Lombok Tengah mulai memberikan pendampingan kepada para korban yang masih hidup.

“Kami fokus pada asesmen, pendampingan psikologis, konseling, serta perlindungan terhadap korban,” kata Baiq Indria Purnawati.(Zal)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan