Mataram – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), mendorong penggunaan dana Belanja Tak Terduga (BTT), untuk mempercepat penanganan abrasi di sepanjang garis pantai di wilayah tersebut yang mencapai 9,1 kilometer.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Kota Mataram, Ahmad Muzaki, mengatakan langkah ini diambil untuk menghindari penundaan penanganan abrasi yang berpotensi terus memperburuk kondisi pesisir, terutama di kawasan padat pemukiman.
Ia mengatakan, Pemkot Mataram saat ini tengah menghitung kebutuhan anggaran bersama Bappeda dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR).
“Kalau memang memungkinkan digunakan, kita dorong memakai BTT. Daripada menunggu dua atau tiga tahun sampai dana besar turun, lebih baik kita tangani secepatnya,” ujar Muzaki, Rabu (5/11/2025).
Sejumlah instansi terkait, termasuk Balai Wilayah Sungai (BWS), juga disebut turut mendorong opsi penggunaan BTT sebagai langkah percepatan.
Namun, Muzaki menegaskan penanganan tidak dapat dilakukan sekaligus di semua titik abrasi. Pemerintah akan memprioritaskan titik kawasan yang paling terdampak.
“Ada beberapa titik seperti Bintaro, Pondok Operasi, Tanjung Karang, Kampung Melayu, Bugis, sampai Mapam. Itu yang sedang kita petakan untuk prioritas penanganan,” jelasnya.
BPBD bersama Bappeda, PUPR, dan BWS telah melakukan peninjauan langsung ke titik-titik tersebut. Saat ini, hasil pengecekan masih dalam proses evaluasi untuk menentukan skala kebutuhan dan model penanganan.
“Kita sudah turun bersama BWS, Bappeda, dan PUPR. Semua titik sudah dievaluasi, tinggal kita finalkan hasilnya,” pungkas Muzaki.(buk)


Komentar