Mataram – Pemprov NTB memastikan proyek pembangunan landasan seaplane atau pesawat amfibi di Bendungan Batujai, Lombok Tengah, tetap berjalan sesuai rencana. Bahkan, wacana ini hampir tanpa penolakan dari masyarakat setempat.
Saat ini, proyek untuk konektivitas destinasi wisata tersebut masih menunggu penyelesaian sejumlah perizinan dari beberapa kementerian.
Kepala Dinas Perhubungan NTB, Ervan Anwar, menjelaskan izin pemanfaatan kawasan di Bendungan Batujai diajukan ke Kementerian PUPR melalui Balai Wilayah Sungai (BWS), sementara izin operasional transportasi udara diproses di Kementerian Perhubungan.
Meski belum seluruh izin terbit, proposal pengajuan sudah dilayangkan sejak awal oleh pihak pengelola, yakni PT Amman.
“Sedang berproses semua. Jadi simultan kan. Ada memang izin-izin yang harus menunggu dokumen tertentu dulu baru bisa jalan, ada juga yang bisa bersamaan,” ujarnya, Rabu (13/5/2026).
Menurut Ervan, target beroperasinya seaplane tersebut diproyeksikan pada akhir tahun 2026 ini. Kendati, tetap mengacu pada seberapa lama rampungnya sejumlah perizinan tersebut.
“Target mereka akhir tahun ini selesai semua perizinannya dan insyaallah bisa langsung operasi,” ujarnya.
Ervan menepis adanya kekhawatiran proyek tersebut akan mendapat penolakan oleh warga setempat, termasuk masyarakat yang selama ini memanfaatkan kawasan Bendungan Batujai untuk meraup pundi-pundi rupiah dengan mencari ikan.
Ia juga menyebut Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah telah menyatakan dukungan terhadap proyek tersebut dan siap melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar.
“Insyaallah enggak ada. Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah sudah bersedia untuk melakukan sosialisasi. Bupati Lombok Tengah sudah oke. Karena ada lahannya Pemkab Lombok Tengah di situ,” katanya.
Lantaran lanjut Ervan, proyek tersebut akan memberikan potensi pendapatan bagi pemerintah kabupaten lantaran memanfaatkan lahan milik Pemkab Lombok Tengah di kawasan bendungan tersebut.
“Karena mereka juga ada pemanfaatan lahannya kabupaten di situ nanti kan, ada menerima dia PAD dari situ nanti,” tuturnya.
Seaplane yang akan dioperasikan nantinya menyasar wisatawan kelas premium atau luxury tourism. Moda transportasi itu dirancang untuk mempercepat akses wisatawan menuju sejumlah destinasi unggulan di NTB dalam waktu singkat.
“Untuk wisatawan yang kelas luxury ya. Luxury atau premium. Nah kita harapkan tamu-tamu yang dari cruise yang datang itu kan lumayan 8 jam bisa meninjau beberapa destinasi dalam waktu yang singkat,” jelasnya.
Rute penerbangan awal disebut masih mengacu pada sejumlah titik destinasi wisata yang sebelumnya telah direncanakan, namun berpotensi terdapat perubahan seiring pembangunan dermaga baru dan infrastruktur pendukung lainnya.
Terkait isu lingkungan, terutama karena sebagian rute berada di kawasan konservasi seperti Gili Trawangan, Ervan mengakatan proyek tersebut tetap memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan dan perlindungan ekosistem.
“Jadi sedapat mungkin tidak merusak misalnya terumbu karang dan lain sebagainya kan gitu. Lingkungan yang penting aman. Kan ada izin lingkungannya,” tandasnya. (ril)


Komentar