Ekonomi Pemerintahan
Home » Berita » Realisasi Investasi di NTB Capai Rp 18 Triliun pada Triwulan I 2026

Realisasi Investasi di NTB Capai Rp 18 Triliun pada Triwulan I 2026

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) NTB, Irnadi Kusuma. (dok: ril)

Mataram – Realisasi investasi di Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Triwulan I Tahun 2026 mencapai Rp18,06 triliun.

Angka tersebut setara 26,3 persen dari target investasi yang ditetapkan pemerintah pusat melalui Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM sebesar Rp68,64 triliun.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) NTB, Irnadi Kusuma, mengatakan realisasi investasi pada tiga bulan pertama tahun ini menunjukkan bahwa NTB masih menjadi salah satu daerah yang menarik bagi investor.

“Hingga Triwulan I Tahun 2026, total realisasi investasi di NTB tercatat mencapai Rp18,06 triliun atau sekitar 26,3 persen dari target investasi yang ditetapkan pemerintah pusat melalui BKPM RI sebesar Rp68,64 triliun,” ujarnya melalui keterangan resmi yang diterima, Senin (1/6/2026).

Berdasarkan data DPMPTSP NTB, sektor Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) masih menjadi penyumbang terbesar investasi dengan nilai mencapai Rp12,92 triliun. Posisi berikutnya ditempati sektor industri sebesar Rp1,67 triliun, disusul sektor pariwisata dan ekonomi kreatif yang menyumbang Rp202 miliar.

Pemprov NTB Bakal Hibahkan Lahan untuk Bangun Sekolah Rakyat di Bima

Menurut Irnadi, dominasi sektor ESDM masih menjadi tulang punggung investasi daerah. Namun Pemprov NTB terus mendorong investasi sektor lainnya agar tidak hanya bergantung pada sektor pertambangan.

“Capaian ini menunjukkan bahwa NTB masih menjadi daerah yang menarik bagi investor, terutama pada sektor-sektor unggulan yang memiliki potensi besar dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah,” katanya.

Ia mengakui kondisi geopolitik global turut memengaruhi pergerakan investasi, terutama pada sektor pertambangan yang cenderung lebih sensitif terhadap perubahan situasi ekonomi dunia. Meski demikian, dampaknya terhadap NTB dinilai belum terlalu signifikan.

“Meski situasi geopolitik dunia memberikan dampak terhadap iklim investasi global, kondisi tersebut tidak terlalu berpengaruh signifikan terhadap minat investasi di NTB, khususnya pada sektor-sektor strategis. Calon investor di bidang pertambangan memang mengalami perlambatan, namun masih dalam kondisi yang terkendali,” jelasnya.

Untuk menjaga tren positif tersebut, Pemprov NTB memperkuat strategi investasi berbasis hilirisasi dan industri pengolahan. Langkah itu dilakukan agar investasi yang masuk mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian daerah.

BMKG Ungkap Penyebab Cuaca Terasa Lebih Dingin di NTB

Salah satu kawasan yang mulai menarik perhatian investor kata Irnadi adalah Samota (Teluk Saleh, Pulau Moyo, dan Tambora). Kawasan tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk pengembangan industri pengolahan hasil perikanan serta sektor-sektor hilirisasi lainnya.

“Saat ini sejumlah investor mulai menunjukkan ketertarikan terhadap pengolahan hasil perikanan di kawasan Samota, termasuk pengembangan sektor industri pengolahan lainnya yang mampu menghasilkan produk akhir bernilai tambah,” tuturnya.

Ia optimistis target investasi NTB pada 2026 dapat tercapai melalui penguatan kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan lainnya.

“Kami optimistis target investasi tahun 2026 dapat tercapai. Yang terpenting bukan hanya angka investasi, tetapi bagaimana investasi tersebut mampu menciptakan lapangan kerja, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat NTB,” pungkasnya. (ril)

Tiga Wakil NTB Siap Tempur di Liga 4 Nasional

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan