Mataram – Keindahan Pantai Batu Dagong di Desa Ekas Buana, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur menawarkan perpaduan panorama alam yang unik, mulai dari hamparan hijau tanaman jagung di perbukitan hingga birunya laut yang memanjakan mata.
Salah seorang pengunjung, Kurniawati Astuti (25), mengaku terkesan dengan keindahan pantai tersebut. Ia bahkan menyebut Batu Dagong sebagai salah satu destinasi yang layak disejajarkan dengan pantai populer di Lombok.
“Kalau ditanya bagaimana keindahannya, indah banget. Batu Dagong itu bisa kita sebut Merese-nya Lombok Timur,” ujarnya kepada WartaOne, Sabtu (4/3/2026).
Menurutnya, daya tarik utama pantai ini tidak hanya pada garis pantainya yang berpasir putih, tetapi juga pemandangan perbukitan yang ditumbuhi jagung dan rumput hijau. Saat musim tanam, lanskap tersebut menjadi nilai tambah tersendiri bagi wisatawan.
“Terus di sana karena banyak yang tanam jagung, jadi itu juga yang jadi nilai plusnya di Batu Dagong. Kita mau datang di musim kemarau tetap bagus juga, apalagi pas lagi hijau-hijaunya musim jagung,” katanya.
Pengunjung yang datang dapat menikmati pemandangan dari atas bukit cukup dengan berjalan kaki. Bukit yang tidak terlalu tinggi memudahkan wisatawan untuk mencapai puncak setelah memarkir kendaraan di area landai di bawahnya.
Dari atas, hamparan laut biru dan garis pantai yang bersih berpadu dengan cahaya matahari terbenam menciptakan pemandangan yang memukau.
Selain menikmati pemandangan, wisatawan juga bisa berenang di pantai yang relatif masih bersih. Lokasinya yang cukup jauh dan berada di ujung selatan Pulau Lombok membuat Pantai Batu Dagong belum terlalu ramai dikunjungi.
Tiket masuk ke pantai ini relatif murah, hanya Rp 5 ribu untuk kendaraan roda dua dan Rp 10 ribu untuk kendaraan roda empat.
Namun, di balik keindahannya, sejumlah persoalan masih menjadi catatan. Kurniawati menyoroti kondisi infrastruktur dan fasilitas yang belum memadai.
“Jalannya jelek, banyak sampah, keamanan kurang juga. Gelap, tidak ada lampu di jalannya,” ungkapnya.
Ia juga mengeluhkan minimnya fasilitas pendukung seperti tempat sampah dan pedagang di sekitar lokasi. Kondisi ini membuat sebagian pengunjung membuang sampah sembarangan.
“Tidak ada yang jualan, tapi di sana banyak petani jagung, banyak pengunjung juga jadi buang sampah sembarangan dan tidak ada tempat sampahnya juga,” lanjutnya.
Dari sisi keamanan, pengawasan kendaraan dinilai masih kurang optimal. Menurutnya, petugas hanya berjaga di pintu masuk dan tidak selalu berada di lokasi hingga malam hari.
“Tidak dijaga juga motor kita, tukang jaganya cuma nunggu di depan pintu masuk saja, terus magrib sudah tidak ada,” ujarnya.
Jika datang dari Kota Mataram, pengunjung akan menempuh perjalanan sekitar 70 hingga 80 kilometer, dengan waktu tempuh berkendara sekitar 1,5 hingga 2 jam. (ril)


Komentar