Mataram – Muhammad Adam harus menelan pil pahit kehidupan di usia yang sangat belia. Bocah sembilan tahun itu harus hidup sebatang kara di Malaysia setelah kedua orang tuanya meninggal dunia di Negeri Jiran itu.
Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal yang mengetahui nasib pilu bocah tersebut berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk memulangkan Adam kembali ke kampung halamannya di Lombok.
Iqbal mengatakan, kasus Adam bermula 13 tahun lalu. Saat itu, sang ibu Megawati, warga Lingkungan Selaparang, Kelurahan Banjar, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, merantau ke Malaysia. Di sana, Megawati menikah dengan seorang pria setempat dan melahirkan Adam.
Dua tahun lalu sang ayah meninggal dunia. Kemudian, pada 15 Mei 2026, Megawati menyusul. Ibunda tercinta mengembuskan napas terakhirnya di Hospital Kuala Lumpur akibat penyakit TBC paru menyebar (disseminated pulmonary tuberculosis).
“Jadi Megawati sendiri berstatus sebagai pekerja migran nonprosedural,” ujar Iqbal dalam keterangan resminya, Sabtu (19/6/2026).
Kondisi status keimigrasian ini membuatnya hidup dalam keterbatasan dan ketakutan akan penangkapan, hingga akses kesehatannya pun menjadi sangat terbatas sebelum akhirnya meninggal dunia.
Sejak menerima laporan sakitnya Megawati pada 7 Mei 2026, staf Disnakertrans NTB Pradiptha Himawan Putra langsung bergerak cepat berkoordinasi dengan Konselor Perlindungan WNI KBRI Kuala Lumpur, Baihaqie.
“Walaupun status dokumen Megawati bermasalah jenazah Megawati akhirnya berhasil dipulangkan dan tiba di Bandara Lombok pada 4 Juni 2026 lalu,” katanya.
Setelah jenazah Megawati dipulangkan, Adam yang luntang-lantung di Malaysia dirawat seadanya oleh tetangga bernama Sumiati, seorang PMI asal Jawa Barat yang juga berstatus nonprosedural.
Setelah proses birokrasi, verifikasi keluarga, dan dokumen perjalanan darurat rampung, Adam akhirnya diterbangkan pulang pada Sabtu, 13 Juni 2026 menggunakan maskapai Batik Air Malaysia OD 366.
“Jadi Adam didampingi langsung oleh Kadisnakertrans NTB Aidy Furqan selama penerbangan menuju Lombok,” beber Iqbal.
Bagi Iqbal, kasus Adam menjadi tamparan sekaligus pelajaran berharga. Pemprov NTB menegaskan tanggung jawab negara tidak berhenti sampai di sini.
Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) NTB, Aidy Furqon, menjelaskan proses pemulangan Adam dilakukan melalui koordinasi dengan KBRI Malaysia.
Menurutnya, biaya dan proses kepulangan dari Malaysia ditangani oleh KBRI, sementara Pemprov NTB berperan memfasilitasi hingga anak tersebut kembali ke keluarganya di Lombok.
“KBRI. Bukan dari Pemprov. Pemprov menyambung untuk sampai ke rumahnya,” kata Aidy, Sabtu (20/6/2026).
Selain mendampingi proses pemulangan, Pemprov NTB juga membantu penyelesaian dokumen yang diperlukan serta memastikan Adam dapat kembali berkumpul dengan keluarganya.
“Kita fasilitasi sampai membantu untuk menyelesaikan dokumen di KBRI, kemudian mengantar sampai keluarganya. Ke depan fasilitasinya adalah kerja sama dengan Dinas Sosial agar bisa masuk di sekolah rakyat,” ujarnya.
Menurut Aidy, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal juga memberikan perhatian khusus terhadap kondisi Adam.
Salah satu opsi yang tengah dipertimbangkan adalah menempatkan Adam di panti asuhan apabila seluruh keluarganya sepakat. Hal itu dinilai menjadi pilihan terbaik bagi pendidikan serta pengasuhannya.
“Sekarang masih di keluarganya. Anak ini masih kenal-kenal keluarganya dulu. Kalau sudah semua keluarganya sepakat melepas di panti asuhan, tinggal kami koordinasi dengan Dinas Sosial,” jelasnya.
Ia menambahkan, aspek pendidikan menjadi perhatian utama mengingat Adam masih berada pada usia sekolah dasar, dan membutuhkan pendampingan untuk melanjutkan pendidikannya.
Saat ini, Adam tinggal bersama nenek dan keluarganya di Kelurahan Pejeruk. Namun, pemerintah kata Aidy akan terus memantau perkembangan kondisi anak tersebut untuk memastikan masa depannya tetap terjamin.
“Sementara ini keluarganya sudah siap menampung. Tapi mungkin kita perlu evaluasi nanti, kita pantau perkembangan satu dua minggu ke depan. Kita lihat lagi, Kebetulan juga anak ini perlu sekolah ke depan,” pungkasnya. (ril)


Komentar