Lombok Tengah – Pemprov NTB mengalokasikan sekitar Rp3 miliar untuk mengentaskan kemiskinan ekstrem di Desa Mangkung, Kecamatan Praya Barat, Kabupaten Lombok Tengah. Desa di kawasan selatan Lombok itu menjadi salah satu sasaran Program Desa Berdaya Transformatif.
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mengatakan anggaran tersebut akan digunakan untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat hingga perbaikan infrastruktur yang menunjang aktivitas warga.
“Di Desa Mangkung ini kita punya beberapa program. Sebagian besar, hampir Rp 3 miliar, kita gelontorkan untuk memberikan pemberdayaan terhadap sekitar 350 KK miskin ekstrem melalui berbagai model yang disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masing-masing,” ujar Iqbal saat berkunjung ke Desa Mangkung, Senin (27/7/2026).
Menurutnya, dana pemberdayaan disalurkan melalui dua skema. Sebagian dialokasikan ke rekening desa untuk mendukung program pemberdayaan berbasis wilayah, sedangkan sisanya diberikan langsung kepada keluarga miskin ekstrem sebagai modal usaha.
“Skema yang lain diberikan langsung kepada keluarga miskin ekstrem untuk modal usaha seperti perdagangan, produksi makanan, hingga peternakan unggas,” jelasnya.
Selain memperkuat ekonomi masyarakat, Pemprov NTB Iqbal berujar juga mulai menangani persoalan rumah tidak layak huni (RTLH) di Desa Mangkung. Pada tahap awal, enam rumah menjadi sasaran perbaikan.
“Tadi coba kita intervensi sekitar enam rumah, yang kita harapkan dalam minggu depan sudah bisa diperbaiki kondisinya. Mudah-mudahan dengan kondisi fiskal yang lebih baik, lebih banyak rumah yang bisa kita bantu,” lanjutnya.
Dalam kunjungan ke Desa Mangkung, Iqbal bersama jajaran juga mendistribusikan 15 ribu liter air bersih kepada warga Dusun Batu Samban yang telah mengalami krisis air selama dua bulan terakhir akibat kemarau.
Salah seorang warga, Lalu Syafri, mengaku bantuan tersebut sangat membantu masyarakat yang selama ini bergantung pada satu sumur bor milik masjid untuk memenuhi kebutuhan air bersih.
“Kami bersyukur, pak Gubernur sudah mendistribusikan air bersih ini. Ini sudah dua bulan kita alami kekeringan,” katanya.
Ia mengatakan, selama musim kemarau warga harus bergiliran mengambil air dari sumur bor untuk kebutuhan minum dan memasak.
“Ada sumur bor tapi di milik masjid. Di sana masyarakat bergiliran ambil air sumur bor untuk minum dan kebutuhan masak,” tandas Syafri. (Ril)


Komentar