Mataram – Kinerja Bank NTB Syariah menunjukkan tren positif sepanjang 2025. Total aset bank daerah tersebut tercatat mencapai Rp17,3 triliun, sementara dana pihak ketiga (DPK) berhasil menembus Rp14,05 triliun.
Namun, struktur penghimpunan dana masih didominasi oleh simpanan pemerintah daerah, khususnya dalam bentuk giro.
Direktur Utama Bank NTB Syariah, Nazaruddin, mengungkapkan bahwa tahun 2025 menjadi periode yang cukup berat terutama setelah mengalami serangan siber dalam beberapa waktu lalu, yang mengakibatkan kerugian mencapai ratusan miliar.
Meski demikian, pihak manajemen bank dinilai mampu menjaga stabilitas kinerja sekaligus memperkuat fondasi bisnis ke depan.
“2025 tahun yang relatif berat bagi Bank NTB Syariah, Alhamdulillah bisa kita lewati dengan baik. Di saat yang sama tahun 2025 kami perkuat fondasi ritel funding dan pembiayaan produktif. Insya Allah akan mulai terlihat hasilnya di tahun 2026 ini,” ujarnya kepada WartaOne, Kamis (2/3/2026).
Ia menjelaskan, pertumbuhan DPK ini masih ditopang oleh lonjakan giro yang hampir mencapai 100 persen. Kondisi ini menunjukkan ketergantungan yang cukup besar terhadap dana milik pemerintah daerah.
Di sisi lain, struktur aset bank masih didominasi oleh pembiayaan konsumtif, sementara pembiayaan produktif dinilai masih perlu diperkuat.
“DPK tumbuh porsi terbesar dari giro Pemda. Aset masih didominasi sektor konsumtif,” kata Nazaruddin.
Meski meski demikian, Bank NTB Syariah mulai menunjukkan tanda pemulihan kinerja terutama dengan membaiknya laba di awal tahun 2026.
Hal ini seiring dengan upaya manajemen bank dalam memperbaiki beberapa aspek, seperti meluncurkan mobile banking bertajuk Rimo, kemudian memperbaiki struktur pendanaan dan mendorong pembiayaan ke sektor produktif.
Sementara itu, Ketua Komisi III DPRD NTB, Sambirang Ahmadi, memberikan apresiasi terhadap capaian bank tersebut yang dinilai menunjukkan fondasi kuat di tengah berbagai tekanan, terutama pasca serangan siber yang mengakibatkan kerugian ratusan miliar itu.
“Saya mengapresiasi kinerja Bank NTB Syariah yang tetap menunjukkan fondasi kuat,” ujarnya.
Atas hal itu, ia mengingatkan agar manajemen bank tidak mengabaikan aspek keamanan sistem. Menurutnya, hal ini harus menjadi perhatian serius ke depan.
“Keamanan IT dan cyber security harus jadi prioritas utama direksi baru. Sudah waktunya dibentuk direktorat khusus IT security. Sistem harus mampu mencegah, bukan hanya merespons,” tegasnya.
Politisi Pantai Keadilan Sejahtera (PKS) ini juga menekankan pentingnya menjaga kepercayaan publik melalui sistem yang transparan dan andal.
Dengan perbaikan tata kelola, khususnya di bidang digital dan manajemen risiko, Sambirang optimistis Bank NTB Syariah dapat bangkit dan terus meningkat kinerja positif.
“Saya optimis, dengan perbaikan tata kelola khususnya di aspek digital dan risiko, Bank NTB Syariah bisa bangkit lebih kuat dan menjadi motor ekonomi daerah,” pungkasnya. (ril)


Komentar